Iseng Iseng Menulis
April 19, 2017
Hidup
gak selalu tentang kesuksesan ya guys, dibaliknya selalu ada kerja keras. Kadang
kita ada dibawah, kadang diatas. Ada yang bilang kalau "Mundur satu langkah itu perlu untuk kemudian
melompat lebih jauh kedepan "
Lagi galau guys? Nikmatin aja, tulis semua yang ada difikiran. Ucapkan
semua yang mengumpat dibalik lisan. Tuangkan amarahmu dalam secangkir karya
hangat. Aduklah semua itu dengan kreativitas untuk menjadi suatu karya sastra
yang berkualitas.
Untuk sahabat yang mau mengirimkan karya nya bias dikirim
melalui email ke redaksi kami. Setelah kami upload kami akan memberikan
informasi melalui twitter atau facebook. Jangan lupa follow kami dan cantumkan
akun social media kalian saat mengirim karya.
Melepas Senja
Dhanur
Dhanur
Menilik sepohon tua dari balik bilik
Dedaunan berguguran
Menumpuk layaknya sampah yang membusuk
Dengan warna merah tua dari cahaya di penghujung senja
Yang hangat nya menusuk hingga tulang rusuk
Dedaunan berguguran
Menumpuk layaknya sampah yang membusuk
Dengan warna merah tua dari cahaya di penghujung senja
Yang hangat nya menusuk hingga tulang rusuk
Sulit
rasanya ketika aku mengira
bahwa Waktu terus saja berlalu tanpa aku tahu apapun
Kecuali bayang bayang yang datang untuk menghilang
bahwa Waktu terus saja berlalu tanpa aku tahu apapun
Kecuali bayang bayang yang datang untuk menghilang
Duka
nestapa memeluk hampa
yang kau tinggal begitu saja
Entah salah siapa
Tapi aku merasakan luka
yang kau tinggal begitu saja
Entah salah siapa
Tapi aku merasakan luka
Masih
ingatkah kau
Bagaimana dulu kita saling mengikat
Menggenggam erat dalam dekapan kasih
dan ikrar cinta yang masih hangat untuk ku ingat
Bagaimana dulu kita saling mengikat
Menggenggam erat dalam dekapan kasih
dan ikrar cinta yang masih hangat untuk ku ingat
Aku
tak lagi bisa berkata kata
Bahkan setelah kau mengenal dia
dan semua tanya habis begitu saja
ditelan oleh rasa, mungkin
Bahkan setelah kau mengenal dia
dan semua tanya habis begitu saja
ditelan oleh rasa, mungkin
Lamunan
sore itu membunuh setiap detik yang berlalu
dan perasaanku takubahnya kepadamu
Menanti, seandainya rindu memanggilmu kembali kepadaku
dan perasaanku takubahnya kepadamu
Menanti, seandainya rindu memanggilmu kembali kepadaku
Sampai
senja mencapai batas usianya
Jemariku berdansa diujung gelisah
Melukis semua resah dalam aksara
Memandang luka dengan air mata
Jemariku berdansa diujung gelisah
Melukis semua resah dalam aksara
Memandang luka dengan air mata
0 komentar